4 Rakyat Kecil Yang Tewas Terbunuh Karena Memperjuangkan Haknya

ilustrasi Salim Kancil dibunuh

Rakyat kecil sepertinya selalu saja jadi korban entah itu penguasa maupun pengusaha. Kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat sepertinya sedikit demi sedikit telah luntur dari Tanah Air. Demi kepentingan pribadi beberpa oknum termasuk penguasa bahkan sampai melakukan penindasan terhadap rakyat kecil.

Baru-baru ini terjadi berita duka yang menyulut reaksi keras dari publik. Seorang aktivis yang biasa dikenal dengan nama Salim Kancil ditemukan terbunuh setelah ia bersama penduduk lainnya dengan gencar menyuarakan penolokan aktivitas penambangan pasir di Lumajang. Diduga pihak pengusaha termasuk juga jajaran kepala desa menjadi dalang di balik pembunuhan tersebut. Kasus rakyat kecil yang tewas terbunuh karena memperjuangkan haknya bukanlah yang kali pertama terjadi. Seblumnya ada sederet nama orang yang juga mengalami nasib serupa dengan Kancil Salim. Siapa sajakah mereka? Berikut ini ulasannya.

1. Munir

Nama Munir mungkin tak asing di telinga Anda. Walaupun kasusnya telah terjadi beberapa tahun silam, tapi hal itu tak serta merta dilupakan oleh segenap rakyat Indonesia. Semasa hidupnya, Munir sangat gencar menuntut hak-hak para korban penculikan yang dilakukan oknum militer beberapa saat setelah kejatuhan Suharto dari kursi kepresidenan RI.

Munir
Munir [image source]
Munir meninggal di pesawat yang akan membawanya ke Belanda untuk melanjutkan studi S2nya di Universitas Utrecht, Belanda. Awalnya pihak dokter yang ada di dalam pesawat tersebut mendiagnosis ia meninggal karena muntaber dan kekurangan cairan. Tapi setelah diotopsi oleh pihak rumah sakit di Belanda, terungkap bahwa munir telah diracuni. Nama Pollycarpus Budihari Priyanto akhirnya diseret dan terbukti menjadi pelaku pembunuhan terhadap munir, Tapi dalang di balik Pollycarpus belum ditemukan hingga saat ini.

2. Marsinah

Marsinah adalah wanita yang lahir di Nglundo, 10 April 1969 dia bukan wanita biasa. Walaupun dirinya adalah seorang wanita, Marsinah tetap berdiri di barisan paling depan memimpin para aktivis buruh untuk menuntut hak mereka yang tidak diberikan oleh perusahaan. Marsinah tercatat sebagai seorang karywan di PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan.

Ilustrasi Marsinah
Ilustrasi Marsinah [image source]
Marsinah memimpin para buruh lainnya untuk melancarkan berbagai macam aksi unjuk rasa menuntut pihak CPS membayar upah sesuai keputusan pemerintah. Tapi sayang upayanya tersebut malah menyebabkan nyawanya melayang. Hasil otopsi menunjukan bahwa Marsinah tewas karena mengalami penganiayaan berat. Dan setelah diselidiki nama pimpinan PT. CPS, Yudi Susanto dijatuhi hukuman 17 tahun penjara begitu juga dengan staff-staffnya yang lain. Tapi stelah naik banding justru pihak pengadilan memberikan vonis bebas pada Yudi hal ini menyebakan kontroversi dan ketidakpusan publik terhadap hasil putusan majelis hakim.

3. Widji Thukul

Kerusuhan Mei 1998 memang membawa nafas baru untuk negeri ini. Tapi tidak untuk sederatan aktivis yang bersuara keras menuntut turunnya rezim Orde Baru. Beberapa nama aktivis menjadi sasaran target penculikan dan pembunuhan pihak militer. Salah satunya adalah Widji Tukul, pria asal Jawa Tengah tersebut adalah seorang sastrawan yang memiliki andil dalam perlawanan terhadap rezim orde baru.

Widji Thukul
Widji Thukul [image source]
Beberapa tahun setelah Soeharto mengundurkan diri, tepatnya di tahun 2000 istri Widji Tukul melaporkan jika suaminya menghilang tanpa jejak. Walaupun berbagai upaya pencarian telah dilakukan, tapi hingga kini keberadaannya tak pernah ditemukan.

4. Salim Kancil

Tragedi tewasnya rakyat kecil yang menuntut haknya kembali lagi terulang. Nasib malang menimpa seorang petani asal lumajang yang dikenal dengan nama Salim Kancil. Ia ditemukan tewas di area perkebunan warga. Salim diculik oleh sekelompok preman yang diduga adalah suruhan kepala desa. Salim kancil memang sangat kontra terhadap kebijakan kepala desa yang mengijinkan aktivitas penambangan pasir di desa Selok Awar-Awar, Lumajang.

ilustrasi Salim Kancil dibunuh
ilustrasi Salim Kancil dibunuh [image source]
Tapi kebijakan tersebut dinilai akan merugikan para petani, sehingga Salim Kancil bersama petani lainnya terang-terangan menolak kegiatan penambangan pasir. Selain Salim Kancil seorang petani lainnya yang bernama Bapak Tosan juga menjadi korban intimidasi oknum yang pro pada kegiatan pertambangan. Beruntung karena ia berhasil diselamatkan oleh warga dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit karena mengalami luka parah.

Itulah empat rakyat kecil yang tewas terbunuh hanya karena memperjuangkan hak-haknya. Miris sekali jika di tahun 2015 ini masih saja terjadi kasus serupa. Padahal kasus-kasus sebelumnya saja belum juga dapat ditemukan titik terangnya. Semua pihak tentu harus bekerja sama bukan hanya untuk menguak siapa yang bersalah tapi juga ikut mencegahnya agar kasus serupa tak lagi terjadi di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *