Kisah Lengkap Tragedi Pemukulan Brigadir Hanafi

Suporter sepak bola menjadi salah satu penyemangat sebuah tim untuk meraih juara. Dengan yel-yel yang mereka gaungkan di stadion, semangat para pemain semakin terpacu. Bisa dikatakan suporter sepakbola ikut berperan dalam kemenangan suatu tim.

Namun, kadangkala suporter sepak bola tak luput dari aksi anarkis. Seperti aksi suporter Persija yang biasa disebut dengan Jakmania saat berlaga melawan Sriwijaya FC Jumat (24/6) lalu. Kerusuhan yang terjadi bermula saat seorang Jakmania tiba-tiba menerobos ke tengah lapangan saat pertandingan berlangsung. Karena ulahnya tersebut, pertandingan sempat terhenti sejenak. Tak berapa lama kemudian suporter Jakmania tiba-tiba merusak pagar pembatas dan melempari petugas kemanan dengan benda tumpul.

Melihat aksi anarkis itu aparat kepolisian bertindak tegas menertibkan suporter yang lekat dengan warna oranye tersebut. Maka terjadilah bentrok antara aparat keamanan dan Jakmania di Pintu 3 Stadion Utama Gelora Bung Karno. Akibatnya, 5 orang polisi terluka. Salah satunya adalah Brigadir Hanafi.

Brigadir Hanafi Kehilangan Salah Satu Penglihatannya

Korban dari pihak kepolisian [image source]
Korban dari pihak kepolisian [image source]
Kerusuhan ini memakan satu korban luka parah dari pihak kepolisian. Ia adalah anggota Brimob Polda Metro Jaya, Brigadir Hanafi. Saat kerusuhan terjadi, Brigadir Hanafi berada di gate luar. Malangnya saat upaya pengamanan bentrok, ia terpisah dari rekannya yang lain.

“Ia tak sadar terpisah. Waktu kita bubarkan massa keluar dari GBK, ia ditimpuk massa yang keluar di Gate 7,” jelas Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi, Awi Setiyono.

Selain menerima timpukan dan pukulan dari massa, Brigadir Hanafi juga tertimpa pagar pembatas. Beberapa bagian tubuh Brigadir Hanafi mengalami luka parah, dagu retak, pelipis kanan kiri retak, robek terbuka di kepala, dan ada bekas pukulan benda tumpul di matanya.

Akibat kekerasan tersebut, Brigadir Hanafi terpaksa kehilangan bola mata kiri karena korneanya sudah rusak. Pengangkatan bola mata tersebut dilakukan berdasarkan pemeriksaan medis sebelumnya. Setelah dilakukan pengangkatan bola mata, keadaan Brigadir Hanafi berangsur-angsur membaik.

“Penyerang Brigadir Hanafi masih kita dalami. Jumlah pengeroyok kita belum bisa pastikan, karena banyak. Bisa bertambah setiap hari, karena dari setiap pengakuan, dia berbuat apa, terus temannya berbuat apa,” ungkap Kepala Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hendy F Kurniawan.

Menjadi suporter tim sepak bola adalah aktivitas yang menyenangkan. Apalagi ketika tim kesayangan berhasil meraih juara dalam suatu pertandingan, rasa bangga turut kita rasakan. Tapi, alangkah baiknya kita menjadi suporter sepak bola yang tertib dan tidak mudah terpancing melakukan aksi anarkis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *