Pasca Penembakan Serda YH, TNI Perketat Penggunaan Senjata

Foto Ilustrasi via sindonews

Anggota TNI berpangkat Sersan Dua (Serda) YH Kostrad Cilodong menembak seorang tukang ojek bernama Japra di Jalan Mayor Oking depan SPBU Ciriung Cibinong, Selasa (3/11) sekitar pukul 16.30 WIB. Serda YH menembak Japra lantaran korban memacu kendaraannya secara ugal-ugalan.

Penembakan berawal ketika korban yang menggunakan sepeda motor serempetan dengan pelaku yang mengemudikan mobil berwarna silver di Jalan Ciriung Cibinong. Saat peristiwa penembakan, Serda YH diketahui berkendara dengan seorang wanita berinisial RA. Ternyata RA ini adalah informan dari Serda YH dalam tugasnya kali ini.

“Itu perempuannya jaring agen (informan) anggota saya (Serda YH). Dia memang pakaian preman, tapi sedang bertugas. Kalau intel kan nggak melulu kaku jamnya, fleksibel. Kita kan intel jam kerjanya 24 jam,” kata Komandan Yon Intel Kostrad Mayor Inf Deni Eka di rumah korban, Kelurahan Cirimekar, Cibinong, Rabu (4/11).

Foto Ilustrasi via sindonews
Foto Ilustrasi via sindonews

Menurutnya, Serda YH memang sedang menjalankan misi tugas. Namun dirinya tidak bisa menyebutkan tugas yang dilakukan Serda YH sebab menyangkut kerahasiaan operasi. Untuk jenis senjata yang dibawa Serda YH diketahui adalah pistol FN-46 dan dibawa secara resmi karena ada surat izin pembawaan senjatanya.

Namun diakui Deni tak semua anggota diperbolehkan membawa senjata. “Senjata diberikan kepada orang yang mendapatkan tugas, khususnya tugas rawan. Misalnya narkoba, teroris, ISIS. Nah dia yang masuknya tugas rawan. Saya tidak bisa menyebutkan tugasnya apa karena nanti bisa dihembus,” jelasnya.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo sudah memberikan pernyataannya terkait peristiwa tersebut. “Apapun mengilangkan nyawa orang lain sengaja tidak sengaja, apalagi oleh aparat dengan menggunakan senjata yang bukan untuk dilakukan hanya untuk musuh, itu sanksinya pemecatan,” tegas Gatot di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (4/11).

Gatot juga memerintahkan pengetatan penggunaan senjata di kalangan anggota. Langkah ini dipicu insiden penembakan oleh oknum tentara terhadap warga sipil. “Pasti (pengetatan senjata). Saya sudah perintahkan Kepala Staf TNI Angkatan Darat agar melakukan evaluasi tingkatan-tingkatan apa yang bawa senjata,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *