Lama Terbongkar, Dicurigai Banyak Oknum Terkait Kasus Vaksin Palsu

Kasus peredaran vaksin palsu yang merebak belakangan ini sangat meresahkan masyarakat. Bagaimana tidak? Vaksin yang seharusnya membuat seorang anak tumbuh sehat, malah menjadi penyebab risiko infeksi. Kali ini kasus vaksin palsu memasuki babak baru atas diragukannya peran BPOM dalam menanggulangi peredarannya.

Kasus yang dinilai banyak pihak sebagai kejahatan manusia ini membuat publik heran karena baru terbongkar setelah 13 tahun kemudian. Anda sendiri pasti bertanya-tanya, di mana BPOM saat vaksin palsu ini merebak selama 13 tahun lamanya? Akhirnya Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani angkat suara perihal kecurigaannya secara gamblang pada publik.

“Saya terus terang curiga bahwa ini ada permainan (oknum), ada mafia, baik oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri, Kementerian Kesehatan dan oknum-oknum di rumah sakit, distributor dan pembuat (vaksin palsu). Ini jelas, tidak mungkin tidak,” ungkap Irma yang saat itu menghadiri acara di salah satu televisi swasta.

Mendesak Agar Segera Diusut Tuntas

Irma Suryanai pada sebuah acara diskusi [image source]
Irma Suryanai pada sebuah acara diskusi [image source]
Menanggapi kasus vaksin palsu yang lama terungkap, Irma sangat menyayangkan peran lambat BPOM. Menurutnya, BPOM tidak serius dalam mengatasi kasus vaksin palsu ini. Mereka (BPOM) terkesan menyembunyikan para oknum yang terlibat dalam kasus vaksin palsu.

Di sisi lain, kepala BPOM, Johan Hamid membantah jika praktik vaksin palsu ini sudah ada sejak tahun 2003. Menurutnya, kasus kejahatan vaksin palsu ini dilakukan dan terbongkar pada tahun 2008 dan 2015. Menanggapi hal itu Irma berpendapat, peredaran vaksin palsu ini terbungkus rapi, karena tidak segera terbuka ke ruang publik.

Ia juga mendesak agar Bareskrim Polri segera mengusut tuntas kasus vaksin palsu. Jika tak begitu, para oknum vaksin palsu akan terus leluasa melancarkan kejahatan manusia ini. Akibatnya, masyarakat tak sadar, bahwa vaksin yang diberikan kepada balita adalah palsu.

“Memang vaksin palsu ini menurut Menkes Nila Moeloek tidak berbahaya. Namun efek sampingnya sangat berbahaya. Contoh kasus, misalnya anak ini sudah divaksin polio. Orang tuanya yakin kalau dia (anaknya) sudah divaksin polio. Ternyata vaksin itu palsu. Tidak ada gunanya. Sehingga dia akhirnya terkena polio karena dia tidak divaksin (asli). Terus siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini?,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *