3 Alasan Kenapa Nasihat Mario Teguh Tentang Games Itu Benar

Sudah banyak yang tahu kalau Mario Teguh merupakan salah satu motivator Indonesia dengan pengaruh yang luar biasa. Hampir setiap hari, jamaah Golden Ways akan bagi-bagi nasehat super dari Fan Page beliau yang sudah difollow lebih dari 16 juta orang.

Tapi, beberapa waktu lalu, Om Mario ini mengeluarkan sebuah quotes tentang Games dan Gamers yang kemudian menyulut kritik. Gara-garanya, Mario Teguh berkata bahwa ‘Ayah yang suka main video games di hadapan bayinya, akan memiliki anak ABG yang susah belajar karena gila video games. Anak hanya tumbuh sebaik kebiasaan orang tuanya.’

Anton Soeharyo dari Touchten, salah satu developer games besar di Indonesia [Image Source]
Anton Soeharyo dari Touchten, salah satu developer games besar di Indonesia [Image Source]
Pesan itupun berbalas kurang mesra dari seorang pria bernama Anton Soeharyo, ‘Saya hilang hormat pada bapak Mario Teguh, saya akan berhenti menfollow dan mengikuti Bapak Mario lagi setelah cara bapak mencari follower dengan cara mengumpulkan hater seperti ini.’ Wajar sih, karena Anto Soeharyo sendiri bergerak di bidang developer game di Indonesia.

Nah, sebenarnya kalau kita mau mencerna baik-baik, kata-kata Om Mario ini nggak sepenuhnya menyudutkan gamers kok. Coba deh kita pikirkan beberapa poin di bawah ini.

Ya, Janganlah Bermain di Depan Bayi atau Anak-anak

Mulai dari yang mudah saja ya. Kata Om Mario, ‘Ayah yang suka main video games di hadapan bayinya,‘ jadi jangan main di depan anak-anak deh. Lebih asyik kan kalau waktu kita bersama mereka dipakai cerita-cerita atau baca buku, main bersama (selain games dan permainan bergadget lainnya), ngobrol-ngobrol, melakukan aktivitas seru di luar rumah.

Ayah main game di depan anak [Image Source]
Ayah main game di depan anak [Image Source]
Berikanlah anak-anak ini masa kecil yang seru dan menyenangkan. Tidak habis di depan gadget, layar monitor dan duduk berjam-jam di kursi. Lagipula, dengan lebih ‘open’ dan interaktif di depan anak-anak, bukankah kita sedang membangun keterikatan emosional yang baik? Seems more interesting and valuable right?

Jangankan anak-anak kita. Bayangkan kita sedang hadap-hadapan dengan seseorang yang sibuk dengan gadgetnya, padahal kita ingin ngobrol. Nggak asik kan? So, it’s about our attitude and quality time.

Belajar dari Steve Jobs

Pak Mario Teguh memang melihat dari sisi hubungan orang tua dan anak, serta demi perkembangan anak-anak nantinya. Paling mudahnya, mari kita berkaca dari kehidupan Steve Jobs. Seorang penggagas teknologi iPad yang digandrungi banyak orang, tapi malah nggak mau anak-anaknya terkontaminasi produk buatannya sendiri.

Belajar dari Steve Jobs dan keluarganya [Image Source]
Belajar dari Steve Jobs dan keluarganya [Image Source]
Alasannya pun logis. Sebagai orang tua, Steve Jobs tidak ingin kehilangan waktu bersama mereka, serta tidak ingin kreativitas dan perkembangan kognitif mereka terhambat. Anak usia emas sampai remaja, memang sebaiknya banyak mencoba kreatif, bergerak, praktek dengan tangan, berkomunikasi dengan banyak orang dan mencoba keterampilan-keterampilan yang luar biasa banyaknya di dunia ini. Olahraga, bikin robot, masak, belajar alat musik, belajar bertani dan sebagainya. Banyaakk..

Steve Jobs dan iPad buatannya [Image Source]
Steve Jobs dan iPad buatannya [Image Source]
Toh pada akhirnya, banyak petinggi Apple, eBay, Google, memiliki kesadaran yang sama tentang pembatasan gadget pada anak ini. Nah, jadi kalau sudah jadi orang tua, memang ada banyak pemikiran kita yang berubah. Ini bukan tentang kepintaran anak saja, tapi juga kecerdasan dan perkembangan lainnya. Kecerdasan emosi, kecerdasan berkomunikasi, kecerdasan berperilaku, dan sebagainya. Siapa yang mereka contoh pertama kali? Sudah jelas orang tuanya.

Bukan Sepenuhnya Menyudutkan Gamer

Nah, kali ini kita bahas dari sudut gamersnya. Dalam beberapa quotes Om Mario, beliau tidak bilang kalau jadi gamers dan bermain games adalah hal yang salah. Namun apakah kita berlebihan dalam main games, bagaimana kita berperilaku dalam bermain games, dan sebesar apa prioritas games dalam realita hidup kita yang sebegini kompleks dan luasnya, adalah yang dimaksud oleh pengusung salam super ini.

Coba baca lagi quotes Mario Teguh ini [Image Source]
Coba baca lagi quotes Mario Teguh ini [Image Source]
Ketahuilah bahwa games itu punya sifat candu bila tidak dimanage dengan baik, karena basicnya games hanyalah hiburan. Jujur pada diri kita sendiri, berapa kali sampai lupa waktu? Berapa kali ketagihan ingin main lagi dan lagi? Nah, banyak sekali orang yang sulit melewati tahapan ini dengan bijaksana pada waktu yang mereka miliki. Sehingga banyak ‘gamers’ tergelincir di sisi candu games daripada sukses dan berhasil karenanya.

Hidup ini tentang kesempatan dan mengusahakan. Masalahnya, kesempatan tidak selalu ada dan yang mengusahakan hidup kita bukan cuma kita seorang. Kesempatan di masa muda tak akan pernah kembali, kalau hanya habis karena main games, kita juga yang susah nantinya. Cliche, but so damn true.

Begitupula yang mengusahakan dan diusahakan dalam hidup kita. Orang tua kerja keras membayar sekolah, menghidupi, membiayai, mengusahakan agar kita bisa tumbuh jadi manusia yang unggul. Paling tidak, hargailah semua itu dengan membalas kebaikan mereka, apapun caranya. Lulus tepat waktu, ajak mereka liburan dari uang hasil sendiri, tunjukkan prestasimu dan sebagainya. Itu dulu. Playing games? Just do it in your ‘me time’. Ingat, only ‘me time’. Kecuali kita memang punya peluang besar dalam merintis karir di dunia games dan BISA MEMBUKTIKANNYA. It’s not playing anyway.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *