Perseteruan Politik 3 Murid HOS Tjokroaminoto

Soekarno, Musso dan Kartosuwirjo

Tahukah Anda jika jauh sebelum para tokoh nasional seperti Soekarno, Musso dan Kartosoewirjo tumbuh menjadi orang-orang besar yang memiliki kekuasaan dan pengaruh, tiga tokoh tersebut pernah tumbuh bersama di bawah bimbingan sang guru, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto?

Tjokroaminoto dan istrinya bukan hanya menjadi bapak-atau ibu kos bagi mereka, tapi juga sebagai seorang guru yang jasanya tak terkira sama sekali. Walaupun Tjokroaminoto saat itu adalah pemimpin dari 2,5 juta anggota Sarekat Islam (SI), Beliau tak memiliki penghasilan lain selain dari kamar-kamar di rumahnya yang ia koskan pada pemuda-pemuda bangsa yang di kemudian hari tumbuh menjadi para pejuang.

Soekarno, Musso dan Kartosuwirjo
Soekarno, Musso dan Kartosuwirjo [image source]
Sayang, walaupun mereka mendapatkan pendidikan darin satu guru, Soekarno, Musso dan Kartosoewirjo terlibat perseteruan yang berujung pada berbagai pemberontakan yang menyebabkan keutuhan Indonesia terguncang. Secara lebih detail kisah perseteruan para murid Tjokroaminoto ini diceritakan dalam sebuah novel sejarah berjudul “Seteru 1 Guru” karya Haris Priyatna.

Dalam bukunya tersebut Haris menceritakan penyebab dari pertentangan Soekarno, Musso dan Kartosoewirjo. Anda pasti sudah tahu bahwa Soekarno adalah bapak bangsa yang sangat menjunjung tinggi asas Pancasila, tapi setalah piagam jakarta yang berisikan asas Pancasila tersebut diresmikan ternyata tak semua orang menerimanya.

Kartosoewirjo adalah salah satu yang menentang dan memiliki pandangan politik yang berbeda dengan Soekarno dan tokoh-tokoh Nasional lainya. Kartosoewirjo adalah seorang murid yang cukup dekat dengan HOS Tjokroaminoto, bahkan ia juga pernah menjadi sekertaris pribadi dari pimpinan Sarekat Islam tersebut.

Untuk urusan politik, Kartosoewirjo kukuh dengan pandangan Islamnya. Karena ada sebab tertentu dan kecewa dengan kebijakan pemerintah pusat yang saat itu ada di bawah pimpinan Soekarno, Kartosoewirjo semakin bertekad untuk mendirikan negara Islam. Sedikit demi sedikit pengikutnya terus bertambah di bawah naungan bendera Darul Islam / Tentara Islam Indonesia.

Bahkan Kartosoewirjo sempat memproklamirkan negara Islam pada 7 agustus 1949, namun beberapa saat setelah itu ia ditangkap oleh militer dan dieksekusi mati atas izin dari temannya sendiri semasa ngekos di rumah Tjokroaminoto yaitu Soekarno.

Musso juga ikut berseteru dengan Soekarno karena ia menolak Pancasila dan mendukung idiologi komunis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *