4 Alasan Majalah Playboy Tak lagi Berisi Foto Wanita Polos Tanpa Benang Sehelaipun.

Salah satu cover majalah

Bagi sebagian para pria dewasa, melihat pemandangan indah dari tubuh-tubuh sensual seorang wanita mungkin akan menjadi hiburan tersendiri. Dan jika tak ada yang asli, hiburan dalam bentuk majalah pun jadi.

Untuk urusan yang seksi-seksi bahkan yang sensual, majalah playboy adalah jagonya. Siapa yang tak kenal dengan majalah khusus pria dewasa tersebut? Tapi, baru-baru ini pihak majalah playboy telah menyatakan jika ke depannya, majalah yang terkenal karena foto telanjang para modelnya tersebut takkan lagi menampilkan foto seksi wanita tanpa benang sehelaipun. Kenapa bisa begitu? Berikut ini alasannya.

1. Kalah Dengan Internet

Majalah Playboy adalah majalah populer tak hanya di Indonesia saja, Tapi di luar negeri sana para penikmatnya bisa mencapai angka jutaan. Seperti yang dilansir dari New York Times, majalah playboy berjaya sekitar tahun 70-an hingga 90-an di mana pembacanya bisa mencapai 5,6 juta pada tahun 1970.

Konten dewasa di Internet
Konten dewasa di Internet [image source]
Tapi itu dulu sebelum demam internet melanda. Dengan kecanggihan teknologi yang semula demi mendapatkan tontonan gambar-gambar telanjang wanita yang berpose sensual harus membeli majalah dulu, sekarang Anda tinggal membuka browser dan dengan beberapa klik saja gambar-gambar dewasa dengan berbagai pose bisa Anda nikmati secara gratis. Itulah alasan kenapa menampilkan foto-foto wanita telanjang di majalah bukan lagi suatu hal yang menarik bagi para pembaca di tengah-tengah gempuran teknologi seperti Internet.

2. Majalah Playboy Tak Sekomersil Dulu

Majalah playboy awalnya diproduksi di Amerika kemudian menjadi populer di beberapa negara lainnya. Tak hanya model model cantik, bahkan ada juga artis-artis terkenal di Hollywood yang memang menginginkan tubuhnya terpampang di majalah playboy ini.

Salah satu cover majalah
Salah satu cover majalah [image source]
Jika dulu majalah playboy adalah barang yang dicari-cari dan ditunggu-tunggu edisi terbarunya. Sekarang, karena marak sekaligus mudahnya mendapatkan konten dewasa di internet, membuat ketelanjang bukan lagi suatu hal yang waw. Majalah-majalah dewasa tak lagi sekomersil dulu yang bisa terjual hingga jutaan eksemplar. Saat ini justru perusahaan hanya bisa menjual ratusan ribu saja. Peminat dan pelanggan setia majalah playboy terus menurun. Sehingga pihak manajemen memutuskan untuk melakukan terobosan agar majalah playboy tetap bisa bertahan di pasaran.

3. Adanya Desain Baru

Malalui proses pertimbangan yang panjang akhirnya rapat redaksi besar yang menghadirkan pendiri sekaligus pemimpin redaksinya, Hugh Hefner, memutuskan untuk berubah. Perubahan yang paling mencolok selain desain yang baru adalah keputusan untuk tidak lagi menampilkan foto telanjang.

Pendiri Playboy
Pendiri Playboy [image source]
Hal itu memicu berbagai tanggapan publik tentu ada yang pro dan kontra terhadap wajah baru playboy yang direncanakan akan rilis pada Maret 2016 mendatang. Meskipun begitu, Pihak playboy berjanji akan tetap menampilkan pose-pose seksi nan sensual dari para model andalannya.

4. Target Pembaca Yang Berubah

Hal serupa ternyata juga akan diberlakukan di situs web playboy. Perusahaan akan meniadakan konten telanjang di situs mereka. Hal ini bertujuan agar situs playboy dapat menarget pasar di media sosial seperti facebook dan twitter.

Target pembaca yang berubah
Target pembaca yang berubah [image source]
Alhasil, target pembaca yang semula hanya untuk kalangan umur 40an ke atas, harapannya juga akan menggaet para pembaca yang berumur 30an. Bahkan nantinya Playboy berharap kontennya dapat dibaca oleh anak muda usia 13 tahun ke atas.

Itulah empat alasan kenapa tidak akan ada lagi gambar-gambar telanjang di majalah maupun situs Playboy. Bagaimana menurut Anda, setuju atau justru malah kecewa dengan keputusan tersebut? Silahkan tuliskan komentar Anda di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *