4 Kekejaman Yang Dilakukan Rezim Soeharto Terhadap Soekarno

Soekarno saat sakit

Peralihan rezim pemerintahan dari rezim orde lama menuju rezim orde baru memang diwarnai dengan peristiwa berdarah. Bermula dari pemberontakan PKI yang berujung pada goyahnya pemerintahan Soekarno, sehingga mau tak mau MPRS mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang membawa nama Soeharto sebagai seorang penguasa berikutnya.

Ada banyak kontroversi terkait surat perintah tersebut. Bahkan ada yang menyebutkan jika ada motif kudeta atas pemerintahan Seokarno di balik surat itu. Akhirnya 7 Maret 1967, MPRS mencabut mandat Presiden Seokarno dan melantik Seoharto sebagai presiden. Nasib malang, selanjutnya menimpa Seekarno pasca turun dari jabatan presiden. Bapak bangsa itu diperlakukan dengan kejam dan itu semua atas restu dari rezim orde baru. Berikut ini adalah empat kekejaman rezim Soeharto pada Soekarno.

1. Dijadikan Tahanan Rumah

Setelah terusir dari Istana Negara dan sempat tinggal di rumah Fatmawati, Soekarno akhirnya ditahan di Wisma Yasoo, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta. Dulunya Wisma Yasoo adalah kediaman istrinya, Ratna Sari Dewi. Hidup sebagai tahan rumah membuat kesehatannya semakin menurun.

Wisma Yasoo
Wisma Yasoo [image source]
Tak hanya perlakuan buruk, ia juga dilarang menonton televisi maupun mendengarkan radio, apalagi membaca koran. Sejumlah saksi mengatakan jika semakin hari Soekarno mulai pikun dan sakitnya makin parah hingga meninggal dunia.

2. Tolak Permintaan Lokasi Makam Soekarno

Bahkan setelah Seokarno meninggal dunia, rezim orde baru masih menunjukkan kekejamannya dengan menolak permintaan Soekarno untuk dimakamkan di kawasan Batu Tulis Bogor yang sejuk di tengah-tengah sawah, pegunungan dan sungai-sungai yang asri.

Makam Bung Karno di Blitar
Makam Bung Karno di Blitar [image source]
Meskipun berbagai pihak termasuk keluarga Soekarno memprotes keputasan pemerintah saat itu, Soekarno tetap dimakamkan di Blitar dengan alasan Soekarno dulunya sangat dekat dang sang ibu. Keputusan ini dipandang sebagai bentuk kekhawatiran pemerintah orde baru yang menganggap terlalu berbahaya jika Soekarno dimakamkan di Bogor karena terlalu dekat dengan Jakarta.

3. Membiarkan Penyakit Soekarno

Miris, karena sebagai proklamator negeri ini, Seokarno justru mendapatkan perlakuan buruk di akhir hayatnya. Sebelum manjadi tahanan rumah, Seokarno memang sudah memiliki penyakit pada bagian ginjalnya. Tapi sakitnya malah semakin memburuk setelah ia ditahan di Wisma Yasoo.

Soekarno saat sakit
Soekarno saat sakit [image source]
Hal itu terlihat saat Seokarno menghadiri acara pernikahan Rachmawati putrinya. Itulah pertama kalinya ia bisa keluar dari Wisma Yasoo, semua orang yang hadir merasa prihatin dengan kondisi Bung Karno. Tubuhnya lemah, bahkan bagian wajahnya bengkak-bengkak.

4. Menjauhkan Seokarno Dari Orang-Orang Terdekatnya

Rezim orde baru juga mengeluarkan larangan menjenguk Soekarno, termasuk juga keluarganya sendiri. Permintaan keluarga untuk merawat Seokarno di rumahnya sendiri tak digubris oleh orde baru. Tak hanya keluarganya, pengawal-pengawal terdekat Soekarno juga dijaukah darinya.

Soekarno
Soekarno [image source]
Sebut saja AKBP Mangil Martowidjojo Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Bung Karno, pengawal kesayangan Seokarno yang terus mendampinginya mulai dari detik proklamasi, hijrah ke Yogyakarta hingga melindungi Soekarno dari ancaman granat dan penembakan. Setelah peristiwa 1967 di mana Mangil tak membiarkan konvoi Soekarno dihadang tentara RPKAD dan berseteru dengan perwira RPKAD, Soeharto membubarkan DKP dan Mangil dilarang bertemu dengan Seokarno.

Itulah empat kekejaman rezim Soeharto terhadap Seokarno. Selain Soekarno, masih ada para veteran dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang hidupnya juga tak lebih baik bahkan setelah Indonesia merdeka, kini mereka sudah tua dan loyo tapi tak kunjung sejahtera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *