Kebijakan Full Day School Mendapat Sorotan Dari Berbagai Pihak

Kebijakan full day school yang digagas oleh Mendikbud Muhadjir Effendy menuai pro dan kontra dari masyarakat dan pelajar. Beberapa siswa menyatakan tidak setuju dengan adanya kebijakan ini.

“Nggak maulah sekolah sampai jam lima. Capek, mending seperti sekarang aja jam 2,” ujar Chaerudin siswa SMPN 12 Jakarta.

Namun, ada pula siswa lain yang menyatakan setuju karena menurut mereka belajar di sekolah lebih efektif daripada di rumah.

Menanggapi kritik tersebut Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan bahwa full day school bukan berarti belajar seharian di sekolah, tetapi untuk memastikan para peserta didik dapat mengembangkan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Full day school ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Saat ini sistem belajar tersebut masih dalam pengkajian lebih mendalam,” terang Mendikbud.

Ide full day school ini telah disampaikan Muhadjir pada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menanggapi ide yang terinspirasi dari beberapa sekolah swasta tersebut, Jusuf Kalla menyarankan Muhadjir untuk melakukan pilot project terlebih dahulu untuk mengetes pasar. Jika full day school ini berlaku, nantinya akan meliburkan kegiatan belajar dan mengajar pada hari Sabtu.

Selain terinspirasi oleh sekolah swasta, full day school tercetus karena adanya orang tua yang bekerja sampai sore. Rata-rata orang tua di kota bekerja hingga pukul 17.00, sedangkan peserta didik pulang sekitar pukul 13.00. Muhadjir khawatir waktu kosong antara pukul 13.00 sampai 17.00 tersebut menjadi celah untuk anak-anak melakukan penyimpangan.

Kebijakan Full Day School Mendapat Sorotan Dari Berbagai Pihak

Tak hanya masyarakat dan peserta didik saja yang menyoroti kebijakan full day school ini. Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti merasa kebijakan full day school ini kurang cocok diterapkan. Menurutnya, beberapa peserta didik tidak betah berlama-lama di sekolah karena merasa tak nyaman.

’’Ada yang menganggap sekolah itu bukan taman, tetapi penjara. Sebab, sering di-bully temannya,’’ kata Retno.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pengamat Pendidikan dan Koordinator Pusat Studi Pendidikan Dan Kebijakan (PSPK) Ifa H Misbach. Menurutnya, kebijakan full day school tersebut belum bisa merangkul kebutuhan peserta didik, terutama bagi mereka yang berada di pelosok.

Kebanyakan peserta didik di daerah masih terganjal oleh materi pengajaran dan biaya pendidikan. Jika full day school juga diterapkan di daerah, Ifa khawatir biaya sekolah menjadi lebih mahal karena penambahan jam mengajar guru-guru di kelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *