3 Kisah Hidup Ima Maisaroh, Warga Indonesia yang Berpidato Dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat

Kabar adanya seorang Indonesia yang akan berpidato dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia santer terdengar. Ia adalah Ima Matul Maisaroh, seorang perempuan berasal dari Desa Kanigoro, Dusun Krajan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Dihubungi melalui akun Facebooknya, wanita ini membenarkan kabar tersebut. Bagaimana Ima bisa menerobos ke jajaran orang-orang penting di Amerika Serikat dan siapakah dia?

1. Ima Maisaroh Tak Mengenyam Pendidikan Tinggi

Ima Matul Maisaroh [image source]
Ima Matul Maisaroh [image source]
Ima Matul Maisaroh sempat terdaftar sebagai siswa di SMA Khairuddin. Sayangnya, ia hanya bisa bertahan di kelas 1 saja. hal tersebut lantaran kedua orang tua Ima menjdodohkannya dengan seorang lelaki yang umurnya 12 tahun lebih tua darinya. Karena rumah tangganya yang tak bahagia, pernikahan Ima hanya berlangsung selama 5 bulan. Ia nekat kabur dan mendaftar ke Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk berangkat ke Hong Kong menjadi pembantu rumah tangga.

“Dulu saya berhenti sekolah karena dikawinkan dengan orang yang saya tidak kenal dan umurnya 12 tahun lebih tua. Rumah tangga tidak bahagia karena tidak cinta,” kata Ima.

2. Nasib Buruk Menimpa Ima Maisaroh Saat Menjadi TKW di Amerika Serikat

Ima kemudian mengikuti pelatihan TKW di Malang. Awalnya ia akan menjadi tenaga kerja wanita di Hong Kong. Namun, niat ini diurungkan saat sepupu majikannya menawari bekerja di Amerika Serikat.

“Saat itu saya latihan kerja di majikan saya di Malang. Majikan saya ini punya saudara sepupu di AS. Saudaranya ini perlu pembantu, saya ditawarin. Saya senang sekali karena gajinya $150 per bulan,” aku Ima.

Foto bersama Barack Obama dan Bill Clinton [image source]
Foto bersama Barack Obama dan Bill Clinton [image source]
Malangnya, nasib buruk menghampiri Ima saat berada di Amerika. Sepupu majikannya tersebut bertindak kasar, berbeda 180 derajat dengan majikannya yang ada di Malang. Ima harus bekerja selama 12 jam setiap hari dan jika ia melakukan kesalahan, siksaan dan pukulan menjadi ganjarannya. Suatu hari ia nekat menyisipkan catatan kecil berisi permintaan tolong kepada penjaga bayi tetangganya. Sejak itulah ia bebas dan tinggal di tempat penampungan gelandangan.

3. Perjalanan Ima Hingga Bisa Berpidato di Konvensi Nasional Partai Demokrat

Meskipun pengalaman pahit dirasakan Ima, ia tak berkecil hati. Malah sebaliknya, ia tetap tegar dan karirnya sebagai aktivis dimulai. Kiprah Ima yang menapakkan kaki di Negeri Paman Sam pada tahun 1997 ini dimulai ketika ia tinggal di LSM CAST (Coalition to Abolish Slavery and Trafficking). Sejak saat itu ia beberapa kali di undang ke berbagai pertemuan tinggi di Washington DC. Bahkan, dalam kesempatan khusus Presiden Obama pernah menerimanya.

Ima bersama aktivis anti perdagangan manusia [image source]
Ima bersama aktivis anti perdagangan manusia [image source]
Saat dihubungi lewat Facebook mengenai kabar pidato dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia, ia membenarkan. Pidato tersebut akan berlangsung pada Selasa (26/7) waktu setempat. Di acara ini Partai Demokrat resmi memilih Hillary Clinton sebagai calon presiden dan senator Tim Kaine sebagai wakilnya dalam Pemilihan Presiden AS pada November 2016 mendatang. Ia juga berharap dapat bertemu secara langsung dengan Hillary Clinton.

’’Dia satu-satunya pejabat tinggi AS yang punya program membantu para korban perbudakan dan perdagangan manusia, dengan menyumbang dana lewat Clinton Foundation,’’ kata Ima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *