Dokter Andra Meninggal Akibat Radang Otak

Dokter Andra via republika

Dokter muda Dionisius Giri Samudra meninggal setelah mengalami demam tinggi dan bintik merah usai datang dari Jakarta. Setibanya di Ambon, kondisi pria yang akrab disapa dr Andra itu memang tengah demam tinggi dan badannya bintik merah. Lantaran kondisi kesehatan Andra semakin menurun, dia pun langsung dilarikan ke RSUD Cendrawasih. Dia dinyatakan menderita campak, radang otak (pneumonia) dan infeksi paru-paru.

Pada saat itu kondisi Andra sangat lemah, suhu badannya mencapai 40 derajat celcius. Dia terkena infeksi campak dan radang selaput otak. Selama perawatan, keluarganya di Jakarta tetap dikomunikasikan. Kesadarannya semakin menurun dan mulai terjadi gangguan ginjal, lever, paru paru hingga kencing tidak teratur.

Saat itu, kalau merujuk ke rumah sakit di Jakarta, transportasi menuju Tual menjadi kendala. Dari Dobo ke Tual memakan waktu 12 jam dengan kapal feri. Dengan kondisi kesehatan dr Andra yang terus menurun, dokter pun tak berani mengambil resiko. Sedangkan bila dengan menggunakan kapal cepat, waktu memang lebih singkat, dengan kecepatan penuh bisa 3-4 jam. Tapi kondisi tak memungkinkan bila harus menggunakan kapal cepat.

Dokter Andra via republika
Dokter Andra via republika

Setelah diizinkan keluarga, akhirnya dokter berupaya melakukan penyembuhan. Tapi takdir berkata lain, nyawa dr Andra tak tertolong. Dia mengembuskan napas terakhir pukul 18.18 WIT di RSUD Cendrawasih. Jenazahnya akan tiba di rumah kedua orangtuanya di Pamulang. Mendiang dr Andra belum sempat menerima gaji terakhir sebelum meninggal, Rabu (11/11)

Paman dr Andra, Agus Ruswanto mengatakan sebelum berpamitan kembali menuju Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru pada 4 November, mendiang sempat mengajak keluarga besar makan bersama. “Ketika mengecek gaji, ternyata belum turun. Sempat agak kecewa karena sudah mengajak keluarga makan. Akhirnya, mendiang mengajak minum es kelapa muda,” kata Agus Ruswanto di rumah duka Perumahan Pamulang Indah.

Menurutnya, Andra akhirnya menukarkan tabungannya yang berwujud mata uang Thailand, Baht untuk biaya mentraktir keluarga. Dia juga menggunakan uang tersebut untuk ongkos kembali ke Dobo. Adapun gaji yang belum turun adalah gaji bulan Oktober 2015. Informasi dari pihak keluarga menyebutkan gaji yang diterima dr Andra sebesar Rp 2,5 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *