Makna Terpendam di Balik Asal Usul Aksara Jawa

Indonesia kaya akan budaya dan peninggalan-peninggalan dari nenek moyangnya, seakan membuktikan bahwa peradaban Indonesia memang pantas dikatakan sebagai peradaban yang cerdas. Salah satunya adalah penemuan Aksara Jawa yang tetap digunakan hingga saat ini. Meskipun kalah populer dengan huruf-huruf latin dan kini terancam punah.

Tahukah Anda jika aksara Jawa menyimpan makna terpendam dan bukan hanya berupa kumpulan huruf saja? Penasaran ada rahasia apa di baliknya? Berikut ini ulasannya.

1. Legenda Ajisaka

Aksara Jawa atau yang umumnya dikenal sebagai hanacaraka tersebut tentu tidak serta merta ada, pasti ada yang menciptakannya. Tapi sayang, bukti-bukti sejarah tentang asal usulnya lebih banyak berupa legenda dan cerita rakyat. Sedangkan literatur sejarah seperti prasasti maupun kakawin yang memuat asal usul penciptaan hanacaraka sulit sekali ditemukan.

Contoh Manuskrip Aksara Jawa Kuno
Contoh Manuskrip Aksara Jawa Kuno [image source]
Kisah yang diceritakan secara turun-temurun perihal asal-usul aksara Jawa adalah kisah tentang seorang raja bernama Ajisaka yang menciptakan sebuah sajak bertuliskan aksara Jawa yang berbunyi hana caraka, data sawala, padha jayanya, maga bathanga. Ajisaka merasa menyesal atas kematian dua orang abdi setianya karena kesalahan dirinya sendiri.

2. Makna di Balik Aksara Jawa

Aksara Jawa yang kita kenal saat ini ternyata memiliki makna filosofis. Kenapa Ajisaka sampai menyesal atas kematian dua orang abdinya tersebut, kemudian menciptakan sajak yang menjadi cikal bakal Aksara jawa? Sebagai manusia Ajisaka pasti pernah melakukan kesalahan dan salah satunya adalah saat ia memerintahkan seorang abdi bernama Dora untuk mengambil keris yang sengaja ia titipkan kepada Sembada, padahal sebelumnya Ajisaka telah berpesan kepada Sembada untuk tidak memberikan keris tersebut kepada orang lain selain Ajisaka Sendiri. Pertempuran antara Dora dan Sembada untuk memperebutkan keris tersebut tak bisa dihindarkan dan akhirnya berujung pada kematian keduanya.

Ilustrasi Pertarungan Sembada Lan Dora
Ilustrasi Pertarungan Sembada Lan Dora [image source]
Kisah tersebut tercermin dalam arti dari tiap-tiap bait aksara Jawa yaitu hana caraka artinya ada utusan, data sawala artinya mereka bertengkar, padha Jayanya artinya sama-sama kuat, sedangkan maga bathanga berarti sama-sama mati. Makna yang tersirat dibalik kisah tersebut adalah kiasan tentang orang-orang kecil yang selalu menjadi korban kekhilafan penguasa.

3. Aksara sebelum penggunaan Aksara Jawa

Orang-orang Indonesia di zaman dulu lebih suka memberitakan sesuatu dalam bentuk lisan atau kiasan daripada tulisan, itulah sebabnya mengapa candi-candi di Indonesia banyak menampilkan gambar-gambar relief karena lebih mudah dipahami daripada bentuk tulisan.

Perbandingan huruf Pallawa dan Hanacaraka
Perbandingan huruf Pallawa dan Hanacaraka [image source]
Tak heran jika asal-usul aksara Jawa beredar dalam bentuk legenda Ajisaka, kebenaran tentang cerita Ajisaka pun sulit dibuktikan. Tapi jika melihat perkembangan kerajaan-kerajaan di Indonesia, penggunaan aksara Jawa mulai populer sejak zaman Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung.

Sedangkan sebelum itu, saat zaman Majapahit,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *