Sambutan Positif Himbauan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah

Hari pertama sekolah sangat ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Tak hanya mereka saja yang deg-degan menanti datangnya hari ini, namun perasaan itu juga dialami oleh orang tua. Agar orang tua terlibat lebih dalam pada pendidikan anaknya, tahun ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengeluarkan sebuah kebijakan.

Kebijakan tersebut adalah mengantar anak di hari pertama masuk sekolah. Himbauan ini sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah. Pada prakteknya, himbauan tersebut mendapat respon positif dari para pendidik.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu guru SDN X Pekayon Jaya, Sri Wahyu Ningsih.

“Tentunya imbauan dari Pak Anies bagus ya, jadi memang orang tua harus mendampingi anak mereka di hari pertama sekolah. Tapi biasanya yang didampingi itu yang kelas satu, kalau kelas dua sampai kelas enam ada yang diantar ada yang berangkat sendiri,” tuturnya.

Orang Tua Antusias Antar Anak ke Sekolah

Mengantar anak ke sekolah [image source]
Hari pertama sekolah disambut antusias oleh para orang tua yang mengantar anaknya. Beberapa orang tua bahkan mengambil cuti satu hari agar dapat mengantar anaknya pergi ke sekolah di hari pertama.

“Saya mengambil cuti satu hari ini untuk mengantarkan anak di hari pertama sekolahnya,” kata Dian, salah satu wali murid siswa.

Menurut Iwan, salah seorang guru sebuah sekolah swasta di Tangerang mengatakan, mengantar anak di hari pertama sekolah adalah hal yang positif. Dengan ditemani orang tua, anak akan merasa nyaman dan mendapat dukungan pada hari pertama sekolahnya. Terutama bagi yang benar-benar baru masuk dunia sekolah.

Namun, perhatian dan peran orang tua tak hanya secara simbolis mengantar saja. Orang tua berperan memberikan perhatian dan mendampingi anak selama proses tumbuh kembang hingga dewasa.

Hapus Perploncoan dan Pungli

Tradisi perploncoan [image source]
Selain himbauan mengantar anak, Anies Baswedan juga menghimbau agar orang tua dan masyarakat berperan aktif dalam melaporkan adanya perploncoan dan pungli di sekolah. Jika terdapat tindak perploncoan atau pungli, maka pihak Mendikbud akan menindak kepala sekolah.

“Perpeloncoan dilarang. Anak anda dititipkan ke sekolah untuk didik bukan untuk ditindas, bukan untuk dipermainkan. Dan bila ada yang menyimpang maka laporkan,” tutur Anies Baswedan.

Laporan tersebut bisa dilakukan dengan mengirim pesan singkat ke nomor 0811976929 atau via website laporpungli.kemdikbud.go.id. Setelah menerima laporan, pihaknya akan melakukan verifikasi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat provinsi dan kotamadya atau kabupaten beserta pihak sekolah akan menindaklanjuti temuan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *