177 WNI Tertangkap Basah Gunakan Paspor Palsu Untuk Haji di Filipina

Ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) tertangkap tangan kepolisian FIlipina karena menggunakan paspor palsu. Sebanyak 177 WNI ini kedapatan menggunakan paspor palsu dengan tujuan ibadah haji ke Tanah Suci. Pihak imigrasi setempat mengetahui bahwa paspor WNI ini palsu karena mereka tidak bisa berbahasa Tagalog.

Pihak keamanan Filipina memperketat penjagaan bandara terkait adanya laporan intelijen bahwa teroris internasional akan memasuki negara tersebut melalui Mindanao. Saat diperiksa, 177 WNI tersebut tak bisa berbicara dialek lokal seperti Tagalog, Cebuano, Maranao, dan Maguindanao. Mereka menjawab pertanyaan dari petugas imigrasi hanya dalam bahasa Inggris.

Awalnya pihak imigrasi Filipina hanya mencari dua orang warga Filipina yang diduga bertindak sebagai pendamping untuk sekelompok WNI yang akan berangkat ke Tanah Suci pada 17 dan 18 Agustus. Namun, mereka terkejut mendapati pelaku pemalsu paspor ini lebih besar. Pelaku pemalsu paspor tersebut adalah 5 orang Filipina dan 177 WNI. Setelah diperiksa, 177 WNI tersebut mendapatkan paspor palsu melalui cara penipuan.

177 WNI Menggunakan Kuota Haji Filipina

Ke-177 WNI tertangkap basah pada Jumat (19/8). Penyelidikan awal Biro Imigrasi Bandara NAIA menyebutkan bahwa para WNI itu menggunakan paspor palsu agar dapat naik haji dengan kuota untuk jamaah haji Filipina. Para WNI yang didampingi oleh 5 warga Filipina sindikat pemalsu paspor ini tiba di bandara secara terpisah. Beberapa minggu sebelum keberangkatan WNI itu sudah tiba di Filipina sebagai turis dengan alamat sementara di Jolo, Sulu.

Paspor palsu tersebut mereka dapatkan dengan mengeluarkan biaya sebesar 6 ribu dolar Amerika sampai 10 ribu dolar Amerika atau sebesar 78 juta sampai 131 juta rupiah.

Filipina Segera Deportasi 177 WNI Pemilik Paspor Palsu

Komisioner Biro Imigrasi Filipina, Jaime Morente terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Indonesia untuk Filipina mengidentifikasi 177 WNI tersebut dan segera mendeportasi mereka. Selain itu, ia juga memerintahkan agar segera menjerat 177 WNI dengan dakwaan mengaku sebagai warga Filipina dan menjadi pendatang asing yang tidak diinginkan. Para WNI tersebut sempat ditahan di pusat penahanan imigrasi di Camp Bagong Diwa, Taguig City, pinggiran Manila.

Penyelidikan paspor palsu tersebut dimulai setelah Presiden Rodrigo Duterte mengingatkan keberadaan warga asing yang memanfaatkan paspor Filipina untuk pergi haji. Pemanfaatan paspor tersebut melibarkan pejabat korup yang bertugas menangani ibadah jemaah haji Filipina. Paspor yang digunakan WNI tersebut menurut Morente adalah dokumen asli, tapi cara mendapatkannya dilakukan secara ilegal.

Saat ini 5 warga Filipina sindikat pemalsu paspor telah diamankan oleh Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk diselidiki. Pihak Morente juga bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri Filipina dan badan penegak hukum lainnya untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut penerbitan paspor Filipina untuk 177 WNI tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *